Bandung – Penyelenggara Konferensi Tenurial meluncurkan ulang enam buku agraria monumental karya sejumlah penulis. Keenam buku ini dipilih dari 72 buku agrarian melalui proses kurasi.

Tiga buku pertama telah diluncurkan di Bandung pada 17 Oktober 2017 bekerja sama dengan Pusat Studi Kebijakan Agraria. Yakni Merampas tanah rakyat: Kasus Tapos dan Cimacan karya Dianto Bachriadi dan Anton Lucas;  Aktor Demokrasi: Catatan Tentang Gerakan Perlawanan di Indonesia karya Arief C Budiman dan Olle Tornquis; dan Prinsip-Prinsip Pembaruan Agraria Perspektif Hukum karya Ida Nurlinda.

Tiga buku lainnya yakni berjudul Seputar Kedung Ombo karya Stanley; Perkembangan Hukum Pertanahan; Pendekatan Ekonomi Politik karya Nurhasan Ismail; dan Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965 oleh Soegijanto Padmo. Ketiga buku ini akan diluncurkan bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pertanahan Negara di Yogyakarta pada 20 Oktober 2017.

Peluncuran buku di dua kota itu disertai dengan diskusi yang mengangkat isu “Perlawanan rakyat terhadap perampasan tanah”. Penanggungjawab peluncuran buku, Yustina, mengatakan, peluncuran ulang keenam buku itu sebagai bentuk penghargaan terhadap karya monumental agraria dan perhutanan sosial sebagai karya pusaka agraria.

Keenam buku itu menggambarkan bagaimana kebijakan Pemerintah di bidang pertanahan dan sumber daya alam sebelum era reformasi, lebih menonjolkan kepentingan pengusaha dan penguasa daripada kepentingan rakyat.

Di sisi lain, kata dia, perlawanan rakyat mempertahankan haknya serta berbagai kelompok yang membelanya justru diintimidasi oleh aparat keamanan.

“Pengadilan pun tak bisa diharapkan untuk menjadi tumpuan terakhir untuk mencari keadilan,” kata Yustina.

Karya pusaka tersebut masih relevan dengan kasus agraria yang saat ini terjadi di Bandung seperti Kasus Dago Elos dan Pangalengan serta kasus Kulon Progo di Yogyakarta. Konflik-konflik tenurial saat ini marak kembali di saat konflik lama belum terselesaikan.

“Janji Nawacita dalam penyelesaian konflik tenurial diuji realisasinya”. (Tim Media/02)