“Sesungguhnya semua pihak kian disadarkan kembali bahwa buat negara berkembang yang agraris, makna kemerdekaan buat rakyat adalah hak atas tanah yang digarapnya”

Kutipan itu akan mengingatkan pada Gunawan Wiradi, sosok yang tak asing di dunia reforma agraria di Indonesia. Horizon pengetahuannya tentang problematika dan kebijakan agraria, menjadikan pria berusia 85 tahun ini adalah the living legend alias sejarah hidup yang masih tersisa yang konsen dalam gerakan agraria di Indonesia.

Penyelenggara Konferensi Tenurial secara khusus menghadirkan Gunawan Wiradi dalam talkshow yang digelar bersama Sajogyo Institute (SAINS) di ruang  pertemuan Sajogyo di Bogor, 18 Oktober 2017. Acara ini menjadi bagian Festival Karya Pusaka Agraria, salah satu kegiatan pra-Konferensi Tenurial.

Gunawan Wiradi telah melahirkan ratusan karya yang cukup penting bagi tonggak reforma agraria. Cakrawala pengetahuannya mengenai agraria karena pria kelahiran Solo 28 Agustus 1932 ini adalah sosok yang hidup dalam enam zaman berbeda. Dia tumbuh sejak era kolonial Belanda, zaman penjajahan Jepang,  zaman revolusi fisik, era Orde Lama, Orde Baru dan era Reformasi.

Sebagai akademisi, pergulatannya di dunia agraria dimulai ketika menjadi dosen di tempat kuliahnya dulu yakni di Institut Pertanian Bogor pada 1963. Meski sempat dinon-aktifkan pada 1965 karena dianggap pendukung Bung Karno, anak bungsu pasangan R Pujo Sastrosupodo dan RA Sumirah ini tak berhenti bersuara soal reforma agraria.

Direktur Sajogyo Institute, Eko Cahyono, mengatakan, Gunawan Wiradi mendedikasikan seluruh hidupnya untuk studi agraria. Namun ia bukan sosok akademisi di menara gading melainkan terlibat dan menyatu dengan masyarakat, terutama yang mengalami konflik-konflik agraria. Dia menjadi guru dalam gerakan sosial di Indonesia.

“Gagasan dan laku hidupnya, sebagai akademisi sekaligus aktivis, patut diteladani,” kata Eko, 19 Oktober 2017.

Sumbangsih terbesar Gunawan Wiradi, kata Eko Cahyono, adalah gagasan tentang pentingnya reforma agraria dari bawah (land reform by laverage). Cara ini dianggap tepat bagi Indonesia yang mengalami periode panjang kolonialisme Belanda dan masih sulit mengharapkan belas kasihan dari pemerintah.

Salah satu praktik nyata reforma agraria berbasis rakyat ini adalah gerakan reclaiming, di mana petani menduduki dan menguasai tanahnya kembali. Gagasan ini lahir dari penelitian Gunawan di Desa Ngandagan, Purworejo, Jawa Tengah.

Kontribusi kedua dari Gunawan, kata Eko, adalah metodologi studi agraria yang berpihak. Positioning ideologis tersebut hasil pergumulan Gunawan yang memandang persoalan agraria secara historis, mutidisiplin dan empirik.

Tulisan-tulisan Gunawan dalam hal metodologi studi agrarian ini kemudian diterbitkan menjadi buku oleh Sajogyo Institute, SKPM-IPB dan PKA-IPB berjudul Metodologi Studi Agraria: Karya Terpilih Gunawan Wiradi pada 2009.

Di tengah kepakarannya yang telah diakui dunia internasional, doktor Honoris Causa dari IPB ini tetaplah sosok yang bersahaja. Eko mengibaratkan Gunawan selayaknya sungai, yang senantiasa bercerita dengan penuh semangat mengenai agraria terhadap siapa pun yang dikenal dan ditemuinya.

Tidak pernah ada rasa pesisme bagi Gunawan Wiradi. Ia hanya khawatir, manakala persoalan agraria tidak teratasi, maka tidak menutup akan terjadi ledakan. Sementara para pemimpin dan tokoh yang ada sekarang mindset-nya masih mencerminkan semangat dagang bukan semangat cita-cita proklamasi 1945.

Usia Gunawan Wiradi memang telah senja. Tapi semangatnya terus muda dan masih aktif dalam perjuangan agraria, salah satunya sebagai dewan pakar Konsorsium Pembaruan Agraria dan Dewan Pengawas di Sajogyo Institute. Saat ini dia tetap menjadi rujukan utama bagi kalangan aktivis, intelektual bahkan para pengambil keputusan. (Tim Media/03)